Awalnya dari bangun tidur udah badmood cz tahu hari ini akan menjadi hari yang melelahkan.
Oh meennn...
Dari rasa nggak badmood itu, seragam kebanggaan gue untuk nerima tamu dari provinsi pun kena tumpahan rawon, sarapan gue..
Iiuuhh...
Dasi gue, baju gue, bau rawon....
Okee....
Hari ini gue berusaha nggak badmood, gue berusaha senyum sepanjang jalan.
Sumpah susah beud guys...
Tapi akhirnya hari gil gue selesai...
Tampilkan postingan dengan label Aku bicara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku bicara. Tampilkan semua postingan
Kamis, 12 April 2012
Senin, 09 April 2012
S T R E sssssssssss
Gue stresssssssssssssss!!!!!
Bayangkan jika diri loe punya segudang organisasi yang masing-masing memiliki peran penting dalam 1 acara sekaligus... Coba dech lu pikir, pada setiap organisasi diri loe adalah orang yang berpengaruh dalam hal tersebut... Tanpa loe, anggota loe hanya plonga-plongo... Emang ada berapa jiwa t0 di lingkungan ini ??? Dan kenapa harus gue ??? Apa loe nggak bisa ??? Sumpah suer, gue stress hari ini...
Mau nggak mau, gue harus mengakui kalo hari ini gue punya hari yang hebat.... (cairan di tubuh gue langsung gempa)
Bayangkan jika diri loe punya segudang organisasi yang masing-masing memiliki peran penting dalam 1 acara sekaligus... Coba dech lu pikir, pada setiap organisasi diri loe adalah orang yang berpengaruh dalam hal tersebut... Tanpa loe, anggota loe hanya plonga-plongo... Emang ada berapa jiwa t0 di lingkungan ini ??? Dan kenapa harus gue ??? Apa loe nggak bisa ??? Sumpah suer, gue stress hari ini...
Mau nggak mau, gue harus mengakui kalo hari ini gue punya hari yang hebat.... (cairan di tubuh gue langsung gempa)
Minggu, 08 April 2012
Senin, 30 Januari 2012
Where Will You Choose ?

Hai Sob, sekarang aku mau obral obrol sama kalian semua... Ya tentang apa yang akan aku omongin ini, eemmm tentang buku-buku motivator. Begini, banyak orang berpikir bahwa dengan membaca buku yang ini yang itu mampu mengubah hidupmu. Oh ya? No, no, no,,, Jangan harap hanya dengan membaca buku yang mahal dan se-best seller apapun mampu mengubah pola pikirmu jadi lebih baik. Oke lah, aku bisa terima kalo sedikit banyak pikiranmu akan terpengaruhi oleh buku yang kamu baca. Tapi guys, percaya dech, itu nggak bakalan berlangsung lama...
Sebenarnya yang mampu mengubah pola pikirmu adalah diri kamu sendiri. Sma seperti tindakan yang kamu abil. Inget Sob, jangan pernah menyalahkan keadaan... Kalo kamu menyalahkan keadaan, sama saja kamu membuang energimu yang seharusnya bisa kamu irit. Kok bisa? Ya bisa lah.. Gini ya, dengan menyalahkan ini itu dia mereka loe bahkan kucing loe ndiri, berarti kamu telah memberi energimu pada mereka-mereka yang kamu anggap udang ngrusak tujuan loe. Mendingan kamu terus berusaha buat dapetin apa yang kamu mau. Sadar dong Sob, dengan bekerja keras dan berusaha, ketika kamu telah berhasil mencapainya, kamu akan merasakan kebahagiaan yang tak terkira.
Sekarang aku tanya aja dech,,, Kompetisi terbesar apa yang pernah loe loe ikuti selama hidup loe!!! Pasti mikirnya lama... Aku nggak peduli sama kompetisi yag kamu-kamu ikuti, mau basket internasional kek, olimpiade sejagat raya kek, apa lah,,, Yang pasti kamu-kamu semua udah salah kaprah menanggapinya. Gini Sob, kompetisi terbesar yang diikuti manusia adalah melawan semua orang di dunia dalam mencapai kesuksesan. Nah loe Sob... Hidup ini merupakan kompetisi... Jadi siapa yang sukses, dialah pemenangnya...
Sekarang gini aja dech, kamu mau pilih yang mana ? Cuma jadi kutu buku yang diem tanpa action, atau berlari sampai garis finish untuk melawan semua orang di dunia...
Oke dech, cukup obral obrolnya, lain kali kita sambung lagi yee...
Rabu, 03 Agustus 2011
Hari Keluarga

29 Juni 2011 HARI KELUARGA
Holla kawan, apa kabar ??? Semoga kalian semua dalam keadaan sangat baik-baik saja, amien. Lama sekali tak posting, jadi pengen posting lagi. Okray, bismillahirrohmannirrohiim..
Kali ini akan dibahas mengenai KELUARGA. Pada dasarnya keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak (*catur warga kalee :D*). Tepat pada tanggal 29 Juni, kita merayakan hari keluarga. Bagi yang tidak merayakan hari keluarga tersebut, merayakannya ama siapa hayo... Ama pacar ya, wkwkwkwk :D ya tak apalah. Tapi menurut saya pribadi, hari keluarga itu ada pada semua hari, iya kan ???
Pada tanggal 29 Juni kemarin aku merayakan hari keluarga tersebut bersama ayah, mama n adek. Kami ber empat melihat karnafal budaya pada acara semipro, kebetulan kan sekarang liburan. Ketika itu aku melihat banyak keceriaan, kebahagiaan, pengorbanan, kesetiaan dan berbagai hal indah lainnya. Oke, check it out...
CATATAN KECILKU HARI ITU...
Ada sesuatu yang bisa aku tulis saat ini. Sebuah potret keluarga sederhana sampai keluarga elite. Semua berkumpul hanya sekedar menghibur diri di hari keluarga dengan menyaksikan berbagai atraksi pawai budaya. Disini aku paham bahwa pawai budaya kali ini membuka mataku tentang indahnya sebuah keluarga. Meskipun aku yakin sebagian besar dari mereka tak tahu bahwa tepat hari itu, tanggal 29 Juni 2011, mereka sedang menikmati indahnya hari keluarga.
Pada salah satu sisi segerombolan rakyat, mataku menangkap sebuah keluarga kecil dengan seorang anak berumur kira-kira 2 tahun. Sepertinya, balita itu merupakan anak mereka satu-satunya. Apapun yang balita itu inginkan, mereka akan berusaha memenuhinya. Entah itu hanya sebatas tahu sumedang, krupuk tengiri, gulali, susu kotak, ice cream, telur puyuh, maupun balon. Sangat terlihat bahwa mereka dari keluarga kalangan bawah. Sang Bapak mengenakan jaket coklat lusuh dengan celana panjang abu-abu, sang Ibu mengenakan baju layaknya kebaya warna pink pudar dengan selendang lusuh yang membalut leher sampai badannya dan si balita yang lucu berambut tipis berkuncir satu ke atas. Sang bapak mondar mandir membeli ini itu, sang ibu menjaga balita dengan sepenuh hati, dan balita itu tersenyum. Sungguh potret keluarga kecil yang bahagia.
Sedangkan pedagang camilan kecil juga tak mau kalah merayakannya. Walaupun mereka terlihat sendiri berjualan kesana kemari menjajakan dagangannya, dibalik itu semua mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pawai budaya seakan surga bagi berbagai pedagang. Mereka akan selalu dan selalu menjajakan dagangannya, berlomba-lomba mendapat rezeki dari rakyat. Keringat bercucuran dari dahi turun sampai leher, mereka tak peduli. Berbagai macam tolakan pembeli pun mereka tetap sabar berjualan. Mungkin dalam benak mereka berkata, “Aku harus bisa menjual semua daganganku”.
Salam hangat untuk keluargaku tercinta..
Mama, adalah mama terhebat yang aku miliki..
Pelukmu selalu membuatku merinding dan teteskan air mata..
Kau lakukan yang terbaik untuk anak-anakmu..
Kau sampul buku kami, menjaga ketika belajar..
Sabarnya hatimu membuatku terbiasa merasa lembut..
Tutur kata dan perilaku baik selalu Kau ajarkan..
Kau adalah teman, sahabat sekaligus mama bagiku..
Sudah sepantasnya Kau tahu segala sesuatu tentang diri kami..
Terima kasih atas semuanya, Mama..
Maafkan kami..
Ayah, adalah ayah terhebat yang aku miliki di dunia..
Kau mencari nafkah bagi kami yang selalu mengeluh..
Anak-anakmu tersenyum Kau beri jajanan..
Setiap malam bahkan, kita menikmati angin malam bersama..
Anak-anakmu merengek ingin ini itu..
Aku sebagai anak sulung, merasa miris..
Kau sakit hati jika kemauan anakmu tak terpenuhi..
Marah pun Kau tak pernah, sekalipun marah Kau hanya diam..
Terima kasih atas semuanya, Ayah..
Maafkan kami...
Adek, kau adalah adek terunik yang ku miliki..
Watakmu sangat keras pada keluarga..
Namun kau begitu lembut dan tenang di depan teman-temanmu..
Jangan nakal ya, dek..
Kita harus selalu bersabar meraih sukses..
Jagan lupa sholat dan berdoa..
Agar kita semua sejahtera, amien..
Sabtu, 12 Maret 2011
Mencintainya Dalam Diam

Bila belum siap melangkah dengan seseorang, cukup cintai dia dalam diam. Karena diammu adalah bukti cintamu padaNya. Kau ingin memuliakan dia dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang. Kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya. Karena diammu... Menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu padanya. Karena mungkin saja orang yang kau cintai adalah orang yang Allah SWT telah pilihkan untukmu.
Ingatkah kalian tentang kisah fatimah dan ali ? Yang keduanya saling memendam perasaan yang mereka rasakan. Tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci dan indah. Jika dia memang bukan milikmu, t0h Allah SWT akan menghapus cinta dalam diammu itu dan memberi rasa yang lebih pada milikmu. Biarkan cinta dalam diammu itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dan sang pemilik hatimu.
Selasa, 01 Maret 2011
This is My Happy Family

Inilah diriku :-)

Disini ada adek-adekku, ada aku, ada tante, dan ada aqong tercinta...

Njebur bareng, bbbrrr....

Ada adek sepupu, ada aku, dan ada adek aku

Senangnya dingin-dinginan

We are smile...

Ini adek-adekku dan tante
Yang ini adekku, namanya nina

Kalo yang ini aku sama mama tercinta...
Aku sama adek tingginya sama, padahal beda 6 tahun :-D

Dekatnya kayak orang pacaran, wkwkwkw...
Sedikit tentang kebahagiaan keluargaku....
Tak Semua Senyuman

Tidak semua senyuman bermakna bahagia
Tidak semua canda tawa bermakna ceria
Di balik itu semua, sebagian manusia merasa tertekan oleh sesuatu
Yang terkadang tak mereka mengerti
Mereka ingin orang - orang yang disayanginya mengerti akan hatinya
Mereka ingin orang - orang mendengar apa yang hatinya inginkan
Hanya sekedar mendengar saja,,,dan berharap semuanya baik - baik saja
Tapi mereka tak tahu bagaimana mendeskripsikan semuanya ???
Berharap orang - orang bisa membantu menghapus kegundahan hatinya
Seorang sahabat berdoa dan bertanya pada Tuhan :
"Tuhan, apa yang harus aku lakukan dalam posisi ini ? Haruskah aku membiarkan mereka dengan meninggalkan kegundahan dan penyesalan di hatiku ? Tuhan, aku masih membutuhkan mereka. Bagaimana caraku untuk memberitahu mereka mengerti akan kegundahan hati ini? Aku tak ingin mereka bersedih atau merasa bersalah begitu mendengar pa maksud hatiku..."
Jangan pernah sia - siakan orang yang ada di sekelilingmu
Karena orang - orang itu lah kau bisa membuat hidupmu gelap dan terang
Kesendirian dan kebersamaan adalah hal yang tak terlepas dari persahabatan
Ketika sahabat itu pergi sejenak untuk menyelesaikan suatu permasalahan
Tak jarang kau akan merasa sendiri dalam kegundahan
Jelaskan pada mereka maksud hatimu, agar mereka mengerti apa yang kau inginkan
Jangan jadikan alasan apapun sebagai penghambat persahabatan kita
Jangan gara - gara CINTA kita merusak semua yang telah terukir menawan
Tetaplah yakin untuk menjadi yang terbaik
Sahabat berdoa dalam segala ketulusan hatinya
"AKU SANGAT BERHARAP HARI-HARI PARA SAHABATKU LEBIH INDAH, AMIEN"
Kamis, 20 Januari 2011
Tentang Dirinya Lagi
15 Desember 2010
Mungkin 3 bulan sudah aku tak menulis tentang dirinya
Entah kenapa aku merasa terlalu putus asa
Sampai akhirnya aku menemukan sosok baru dalam hidupku
Mulanya aku tak yakin, tapi aku terus menjalaninya
Hari demi hari aku lewati tanpa bertemu sosoknya
Aku juga merasa tidak cemas, ya hanya sesekali duakali saja
Tapi setelah itu, kecemasan hilang dengan hadirnya teman-teman di sekelilingku
Dan saat ini, di bulan Desember yang penuh kejutan
Aku suka sekali bulan Desember, bulan Ulang Tahunku
Desember juga menyimpan banyak event menarik dan bahagia
Oke, kembali ke topik,,,
Aku menulis tentang dirinya lagi
Awalnya kunyalakan laptopku
Kuarahkan mouse ke shortcut my computer
Tepat disitu, data D terbuka dan terlihat folder dengan capslock "KEREN"
Aku tertarik membuka kenangan manis itu
Semua hal beserta foto-foto dirinya terkumpul rapi pada satu folder
Kubuka salah satu fotonya dengan ukuran penuh
Sejenak kupandang, perlahan dan mendalam, dan ups !!!
Aku pernah menyayanginya, aku mengaguminya, aku menyukainya
Sosok inilah yang pertama membuatku stres karena perasaan ini
Bagaimana kabarnya ???
Terakhir aku bertemu di depan kantor sekolah pada tanggal 14 DESEMBER 2010
Rasanya biasa saja, aku melewati dirinya dengan tanpa ekspresi
Aku terus menerobos kerumunan teman-teman tanpa memperdulikannya
Kenapa aku tidak menyesal meninggalkan saat-saat seperti itu ???
Ah, aku kan bukan tipe cewek yang suka terpuruk
Aku tahu aku sedih, tapi aku tidak mau dilihat orang dengan expresi yang sedih begini
Coba pikirkan !!! Apa untungnya ???
Aku kembali duduk di mushola dengan santai
Dan..... O'ow,,,
Siapa itu ??? Aku melihat sosok itu
Dia, dia ada disana, memakan 1 bungkus siomay bersama temannya
Tapi aku hanya melihat sejenak dan berkata "untuk apa ?"
Sudahlah, harapan itu terlalu besar
Sama seperti harapanku saat ini pada sosok yang baru
Hatiku sedang bimbang
Apa yang sedang kurasakan ???
Rasanya tawar, biasa saja kalo ini diibaratkan makanan
Ya...kurang lebih seperti nasi tanpa lauk pauk, sekalipun itu garam
MmmHhh, sedikit membosankan...
Beginikah nasib cewek yang pemalu terhadap perasaannya ???
Yang bisa dilakukan hanya menulis, melamun, berhayal
Dan akhirnya berkata "Ah,sudahlah"
Haruskah terus begini ???
Pasrah dan ikhlas, bahkan ini kelewat sabar dan ikhlas
Hidupku memang hampir tidak pernah gelisah, rasanya nyaman dan damai
Itulah kelebihan yang Tuhan berikan padaku
Aku bersyukur bisa menjadi cewek remaja yang kuat mental seperti ini
Jika orang lain yang menjadi diriku
Mungkin mereka akan berkata "HIDUP INI MEMBOSANKAN"
Tapi bagiku tidak, mendengarkan orang lain sangat perlu
Menjadi seseorang yang berarti untuk orang lain, itulah hidupku
Memandang masalah dalam banyak sudut
I LOVE MY LIFE
I HOPE, I CAN HELP THEM TO BREATH WELL
Mungkin 3 bulan sudah aku tak menulis tentang dirinya
Entah kenapa aku merasa terlalu putus asa
Sampai akhirnya aku menemukan sosok baru dalam hidupku
Mulanya aku tak yakin, tapi aku terus menjalaninya
Hari demi hari aku lewati tanpa bertemu sosoknya
Aku juga merasa tidak cemas, ya hanya sesekali duakali saja
Tapi setelah itu, kecemasan hilang dengan hadirnya teman-teman di sekelilingku
Dan saat ini, di bulan Desember yang penuh kejutan
Aku suka sekali bulan Desember, bulan Ulang Tahunku
Desember juga menyimpan banyak event menarik dan bahagia
Oke, kembali ke topik,,,
Aku menulis tentang dirinya lagi
Awalnya kunyalakan laptopku
Kuarahkan mouse ke shortcut my computer
Tepat disitu, data D terbuka dan terlihat folder dengan capslock "KEREN"
Aku tertarik membuka kenangan manis itu
Semua hal beserta foto-foto dirinya terkumpul rapi pada satu folder
Kubuka salah satu fotonya dengan ukuran penuh
Sejenak kupandang, perlahan dan mendalam, dan ups !!!
Aku pernah menyayanginya, aku mengaguminya, aku menyukainya
Sosok inilah yang pertama membuatku stres karena perasaan ini
Bagaimana kabarnya ???
Terakhir aku bertemu di depan kantor sekolah pada tanggal 14 DESEMBER 2010
Rasanya biasa saja, aku melewati dirinya dengan tanpa ekspresi
Aku terus menerobos kerumunan teman-teman tanpa memperdulikannya
Kenapa aku tidak menyesal meninggalkan saat-saat seperti itu ???
Ah, aku kan bukan tipe cewek yang suka terpuruk
Aku tahu aku sedih, tapi aku tidak mau dilihat orang dengan expresi yang sedih begini
Coba pikirkan !!! Apa untungnya ???
Aku kembali duduk di mushola dengan santai
Dan..... O'ow,,,
Siapa itu ??? Aku melihat sosok itu
Dia, dia ada disana, memakan 1 bungkus siomay bersama temannya
Tapi aku hanya melihat sejenak dan berkata "untuk apa ?"
Sudahlah, harapan itu terlalu besar
Sama seperti harapanku saat ini pada sosok yang baru
Hatiku sedang bimbang
Apa yang sedang kurasakan ???
Rasanya tawar, biasa saja kalo ini diibaratkan makanan
Ya...kurang lebih seperti nasi tanpa lauk pauk, sekalipun itu garam
MmmHhh, sedikit membosankan...
Beginikah nasib cewek yang pemalu terhadap perasaannya ???
Yang bisa dilakukan hanya menulis, melamun, berhayal
Dan akhirnya berkata "Ah,sudahlah"
Haruskah terus begini ???
Pasrah dan ikhlas, bahkan ini kelewat sabar dan ikhlas
Hidupku memang hampir tidak pernah gelisah, rasanya nyaman dan damai
Itulah kelebihan yang Tuhan berikan padaku
Aku bersyukur bisa menjadi cewek remaja yang kuat mental seperti ini
Jika orang lain yang menjadi diriku
Mungkin mereka akan berkata "HIDUP INI MEMBOSANKAN"
Tapi bagiku tidak, mendengarkan orang lain sangat perlu
Menjadi seseorang yang berarti untuk orang lain, itulah hidupku
Memandang masalah dalam banyak sudut
I LOVE MY LIFE
I HOPE, I CAN HELP THEM TO BREATH WELL
Senin, 15 November 2010
Aku, Sahabat, dan Penjahat - Sebuah Cerpen
KEVIN Danubrata melangkahkan kakinya dengan tenang memasuki taman kota. Matanya menatap tajam ke depan. Langkahnya yang pasti menunjukkan dia sudah mengenal taman ini dengan baik. Tanpa tergesa-gesa dia menuju salah satu bangku yang terdapat di bawah pohon. Bangku itu menghadap ke air mancur yang banyak terdapat di taman itu.
Di bangku itu telah duduk seorang wanita. Wanita itu berkulit putih, berambut hitam panjang, dan cantik. “Hai, Arya. Sudah nunggu lama?” sapa Kevin tenang.
“Duduklah,” balas si wanita tanpa menatap Kevin sama sekali. Matanya menatap kosong dengan ekspresi yang sulit digambarkan. Alis Kevin naik. Tidak biasanya Arya bersikap seperti ini. Namun dia pun duduk di bangku itu. Setelah duduk, Kevin tidak berkata apapun. Dia berpikir sejenak. Setelah makan siang tadi, dia menerima pesan singkat dari Arya yang memintanya datang ke sini. Maka dia datang tanpa bertanya-tanya.
Kevin merenungkan sikap Arya. Arya adalah sosok yang terkenal di kampus. Ia dikenal karena pikirannya yang cerdas, wajahnya yang cantik, dan sikapnya yang ramah. Keramahan yang tenang, tulus, dan alami. Namun ada kalanya dia bersikap dingin dan kurang bersahabat, seperti sekarang ini. Sikap yang jarang sekali ditunjukkan Arya.
Beberapa menit berlalu. Arya masih diselimuti kebungkaman yang aneh. Kevin pun tidak berniat mengusiknya. Dia tahu, Arya akan bicara pada saatnya. Dia dan Arya sudah lama bersahabat hingga cukup tahu tabiat masing-masing. Lagi pula Kevin sedang menikmati suasana tempat ini. Taman itu diselimuti cahaya senja yang berpendar, dan suasananya damai. Kevin selalu menyukai keheningan yang damai. Kala semilir angin menerpanya, ingatannya kembali ke beberapa bulan yang lalu.
Kala itu Kevin sedang berkeliaran di sebuah toko buku besar di Bandung. Alasannya adalah untuk mencari sebuah novel terkenal. Novel yang telah terbit beberapa waktu lalu, dan dengan cepat digemari. Kevin sangat ingin membeli novel itu. Selain memang hobi membaca, Kevin juga seorang penulis. Sudah sering cerpennya diterbitkan di majalah-majalah dan koran terkenal. Dan bulan lalu novel pertamanya terbit. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula. Maka sejak itu Kevin makin rajin mengikuti perkembangan dunia tulis-menulis. Karena kesibukannya, Kevin baru bisa menyempatkan diri membelinya sekarang. Setelah mencari sebentar, matanya menemukan novel itu. Hanya tersisa satu. Saat akan mengambil novel itu, tangannya berbenturan dengan tangan seseorang. Kevin menoleh. Ternyata seorang wanita. Dan cantik pula. Wanita itu diam saja. Namun dari sikapnya tadi sudah jelas apa yang diinginkannya. Maka dengan sikap ksatria Kevin mengisyaratkan pada wanita itu untuk memiliki novel itu. Biarlah, pikirnya. Masih ada tempat lain.
Kala Kevin hendak beranjak, wanita itu menahannya. Tampaknya dia terkesan dengan sikap Kevin. Wanita itu pun memperkenalkan dirinya. Namanya Arya, dipanggil Arya. Kevin lalu memperkenalkan dirinya juga. Dan dilanjutkan dengan obrolan beberapa lama. Ternyata mereka memiliki hobi yang sama, meminati sastra. Dan juga satu hal lagi, ternyata mereka mahasiswa dari fakultas dan kampus yang sama.
Setelah pertemuan itu, mereka tetap berhubungan. Sampai sekarang Kevin masih heran dengan pertemuan itu. Walau berwajah tampan dan berbakat menulis serta bermusik, Kevin tidak mudah mengawali perkenalan. Dia suka berteman, tapi dia juga suka ketenangan. Agar mudah dapat inspirasi, pikirnya. Mungkin ini disebabkan sikap Arya yang ramah dan supel. Kevin pun tidak keberatan. Baginya Arya adalah sahabat. Selain karena mereka memiliki hobi yang sama, ini juga disebabkan karena sikap Arya yang ramah itu. Arya juga cerdas, sehingga dapat memahami cara berpikir Kevin yang menyukai ketenangan. Maka begitulah mereka adanya. Dua sahabat, tidak kurang, tidak lebih. Mereka merasa puas dengan sebutan itu, sahabat. Tempat sebagian diri kita tertambat.
Tiba-tiba, sebuah sengatan kecil di lengannya membuyarkan lamunan Kevin dan menyeretnya kembali ke realita. Ternyata nyamuk. Sial, gerutu Kevin. “Kevin,” akhirnya Arya memecah keheningan yang dibangunnya sendiri. “Ah…akhirnya. Ada apa, Arya?” tanya Kevin dengan tenang. “Kenapa?” Arya bertanya dengan nada yang dingin dan kosong. “Maksudnya?” Kevin masih tidak mengerti. “Kamis malam seminggu yang lalu, ruang kosong di kampus, pukul 11 malam.” hanya itu balasan Arya.
Kevin langsung tercekat. Kata-kata Arya bagai petir di siang bolong. Sesaat ia merasa jantungnya berhenti berdetak dan darah menguap dari tubuhnya. Jiwanya terguncang. Mati-matian ia mengendalikan tubuhnya yang gemetar. Jadi, Arya tahu. Setelah susah-payah menenangkan diri, dia meyusun kata-katanya.
“Bagaimana…kamu bisa tahu?” tanya Kevin.
“Karena saat itu aku ada di sana.” jawab Arya.
Jawaban itu memukul Kevin dengan telak untuk kedua kalinya. Dia tidak dapat berkata apa-apa lagi. Maka dia terdiam. Arya pun terdiam. Keduanya terdiam. Pikiran Arya pun melayang dituntun kesunyian. Dibimbing oleh ingatan, ke malam itu. Malam yang tak akan dilupakannya seumur hidupnya.
Kala itu Arya tinggal agak lama di kampus untuk mencari materi untuk tugasnya. Setelah selesai, dia pun bermaksud pulang. Saat sedang menyusuri koridor kampus yang lumayan gelap, dia mendengar suara-suara dari ruang di tikungan di depannya. Siapa yang bicara di kampus pada jam selarut ini, pikirnya. Arya lalu memperlambat langkahnya. Dia berhenti di tikungan sebelum pintu ruangan tempat suara itu berasal. Dia mendengarkan dengan seksama. Ada dua orang. Suara yang satunya tenang, dan yang lainnya kasar dan keras.
Arya mengenali salah satu suara itu. Kevin? pikirnya. Dia heran. Namun dia memilih tetap mendengarkan. Dia tercekat mengetahui isi pembicaraan itu. Makin lama pembicaraan makin panas. Suara yang keras itu makin lama makin kasar. Namun tiba-tiba hening beberapa lama, dan disusul bunyi yang keras. Akhirnya, pintu terbuka, dan seseorang melangkah ke luar ke arah berlawanan, berlalu tanpa menyadari kehadiran Arya. Arya tidak dapat berpikir jernih. Kakinya gemetar hebat. Tanpa pikir panjang lagi, ia melesat meninggalkan tempat itu, masuk ke mobilnya, dan segera pulang.
Esoknya, kampus pun gempar. Di ruang kosong itu ditemukan mayat Steve, mahasiswa di kampus itu juga. Bersama sepucuk pistol. Dan yang lebih menghebohkan, di sekitar mayat Steve berserakan berbagai bukti. Bukti tentang pengedaran narkoba. Ternyata Steve adalah pengedar di lingkungan kampus. Selain itu terdapat juga daftar nama anggota Steve, jalur pengedarannya, foto-foto transaksi, dan masih banyak lagi.
Keesokan harinya, berita itu muncul di halaman depan berbagai surat kabar. Jaringan pengedar di kampus dibekuk. Ternyata jaringan itu luas dan melibatkan beberapa aparat kepolisian. Itulah sebabnya komplotan ini bisa melebarkan sayapnya dalam kerahasiaan tanpa tercium sedikitpun. Kecuali bagi Kevin, pikir Arya.
Selama seminggu, Arya gelisah. Dia menjadi saksi dari sebuah pembunuhan. Dan pembunuh itu adalah sahabatnya. Namun korban adalah penjahat. Sampah masyarakat. Terjebak dalam dilema, Arya akhirnya mengambil tindakan. Dia harus mendapat kebenaran itu dari mulut Kevin sendiri.
“Kevin…ceritakan padaku apa yang terjadi malam itu, sekali lagi.” perintah Arya.
“Baiklah, Arya…” desah Kevin. “Malam itu aku memanggil Steve dengan membawa bukti, memaksanya menyerahkan diri ke polisi.”
“Apa kau sudah gila? Kau bisa dibunuhnya.”
“Tidak akan. Aku bilang padanya, jika aku mati, esoknya salinan bukti-bukti itu akan menghiasi media.”
“Dari mana kau dapatkan bukti-bukti itu?”
“Aku punya naluri yang tajam. Karena curiga pada Steve, kuselidiki dia berminggu-minggu.”
“Lalu? Apa yang terjadi?”
“Dia mengancamku dengan pistol untuk menyerahkan bukti. Dia tidak percaya akan ancamanku.”
“Apa? Steve…” Arya tak mampu melanjutkan.
“Aku terdesak. Nyawaku terancam. Sesaat Steve lengah, dan kuhantamkan pipa besi ke lehernya. Aku hanya bermaksud membuatnya pingsan. Ternyata dia mati.”
“Jadi…keheningan itu…”
“Saat Steve menodongku dengan pistolnya.”
“Dan suara keras itu…” Arya akhirnya mengerti.
“Kenapa polisi tidak menangkapmu?” Pertanyaan ini terus menghantui Arya.
Steve menjawab dengan suara bergetar. “Karena aku berhati-hati. Aku sudah menghapus sidik jariku yang ada di bukti-bukti itu sebelum bertemu Steve. Dan pertemuan itu rahasia. Ternyata Steve terbunuh. Aku panik. Sebelum keluar, kuhapus sidik jariku yang ada di pipa besi dan pegangan pintu.”
“Tanpa menyadari bahwa aku ada di balik tikungan…” balas Arya. “Jadi itu sebabnya…” dan Kevin pun tertunduk. Arya pun terdiam. Walau begitu, dia heran dengan tindakan Kevin. Menyelidiki Steve. Mengancamnya. Mungkin karena dia penulis dan banyak membaca, pikir Arya. Sampai di sini dia masih mengerti. Namun, menghapus bukti setelah membunuh. Dia merasa tak lagi mengenal sahabatnya. Dan masih ada satu pertanyaan, walau dia sudah tahu jawabannya.
“Kenapa kamu tidak meyerahkan diri?”
“Itu kecelakaan. Sepenuhnya pembelaan diri. Dan Steve sampah masyarakat. Dia pantas mati.”Arya tercekat mendengar kalimat terakhir itu.
“Itukah jawabanmu?”
“Itulah kebenaran, Arya.”
“Kebenaran? Apa maksudmu?”
“Kebenaran…adalah apa yang ingin didengar oleh masing-masing orang.” Arya terdiam.
“Lihat faktanya, Arya. Masyarakat tak peduli apakah pembunuh Steve tertangkap atau tidak. Mereka justru bahagia. Seorang perusak generasi muda mati, walau ini bukan keinginanku pada awalnya. Kampus kita pun jadi sedikit lebih baik. Inilah…kenyataannya.”
Jauh di bagian terdalam hati dan logikanya, dia mengakui Kevin benar. “Lalu, bagaimana denganku? Aku mengetahui kebenarannya.”
Kevin diam saja. Dia dan Arya sudah tahu jawabannya. Kevin tidak akan pernah mengusik Arya. Arya sahabatnya. Dan Arya pun mengerti. Dia tak bisa melaporkan Kevin. Kevin tak berniat membunuh. Dan jaringan pengedar itu sudah terungkap. Melaporkan Kevin hanya akan membahayakan nyawanya. Kevin sahabatnya.
Mereka sudah lama bersahabat. Saat itu mereka bisa mengetahui pikiran masing-masing tanpa bicara. Keheningan yang menggantung telah menjawab segalanya. Dan mereka pun tahu, karena kejadian ini, persahabatan mereka akan berubah. Entah berakhir atau berlanjut, yang pasti tak akan pernah sama lagi.
Malam mulai menyelimuti mereka. Dengan tenang, Arya berdiri dan beranjak, meninggalkan Kevin di sana. Di bangku itu. Bernaungkan malam berteman sunyi sepi dingin tak terperi. Pada malam itu bintang, pohon, air mancur, bangku, dan semua yang ada di taman itu menjadi saksi. Saksi akan kesunyian. Kesunyian yang menyesakkan seorang Kevin Danubrata.
Rajian S R,
Kelas XII SMAN Plus
Provinsi Riau
Aku, Sahabat, dan Penjahat - Sebuah Cerpen
KEVIN Danubrata melangkahkan kakinya dengan tenang memasuki taman kota. Matanya menatap tajam ke depan. Langkahnya yang pasti menunjukkan dia sudah mengenal taman ini dengan baik. Tanpa tergesa-gesa dia menuju salah satu bangku yang terdapat di bawah pohon. Bangku itu menghadap ke air mancur yang banyak terdapat di taman itu.
Di bangku itu telah duduk seorang wanita. Wanita itu berkulit putih, berambut hitam panjang, dan cantik. “Hai, Arya. Sudah nunggu lama?” sapa Kevin tenang.
“Duduklah,” balas si wanita tanpa menatap Kevin sama sekali. Matanya menatap kosong dengan ekspresi yang sulit digambarkan. Alis Kevin naik. Tidak biasanya Arya bersikap seperti ini. Namun dia pun duduk di bangku itu. Setelah duduk, Kevin tidak berkata apapun. Dia berpikir sejenak. Setelah makan siang tadi, dia menerima pesan singkat dari Arya yang memintanya datang ke sini. Maka dia datang tanpa bertanya-tanya.
Kevin merenungkan sikap Arya. Arya adalah sosok yang terkenal di kampus. Ia dikenal karena pikirannya yang cerdas, wajahnya yang cantik, dan sikapnya yang ramah. Keramahan yang tenang, tulus, dan alami. Namun ada kalanya dia bersikap dingin dan kurang bersahabat, seperti sekarang ini. Sikap yang jarang sekali ditunjukkan Arya.
Beberapa menit berlalu. Arya masih diselimuti kebungkaman yang aneh. Kevin pun tidak berniat mengusiknya. Dia tahu, Arya akan bicara pada saatnya. Dia dan Arya sudah lama bersahabat hingga cukup tahu tabiat masing-masing. Lagi pula Kevin sedang menikmati suasana tempat ini. Taman itu diselimuti cahaya senja yang berpendar, dan suasananya damai. Kevin selalu menyukai keheningan yang damai. Kala semilir angin menerpanya, ingatannya kembali ke beberapa bulan yang lalu.
Kala itu Kevin sedang berkeliaran di sebuah toko buku besar di Bandung. Alasannya adalah untuk mencari sebuah novel terkenal. Novel yang telah terbit beberapa waktu lalu, dan dengan cepat digemari. Kevin sangat ingin membeli novel itu. Selain memang hobi membaca, Kevin juga seorang penulis. Sudah sering cerpennya diterbitkan di majalah-majalah dan koran terkenal. Dan bulan lalu novel pertamanya terbit. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula. Maka sejak itu Kevin makin rajin mengikuti perkembangan dunia tulis-menulis. Karena kesibukannya, Kevin baru bisa menyempatkan diri membelinya sekarang. Setelah mencari sebentar, matanya menemukan novel itu. Hanya tersisa satu. Saat akan mengambil novel itu, tangannya berbenturan dengan tangan seseorang. Kevin menoleh. Ternyata seorang wanita. Dan cantik pula. Wanita itu diam saja. Namun dari sikapnya tadi sudah jelas apa yang diinginkannya. Maka dengan sikap ksatria Kevin mengisyaratkan pada wanita itu untuk memiliki novel itu. Biarlah, pikirnya. Masih ada tempat lain.
Kala Kevin hendak beranjak, wanita itu menahannya. Tampaknya dia terkesan dengan sikap Kevin. Wanita itu pun memperkenalkan dirinya. Namanya Arya, dipanggil Arya. Kevin lalu memperkenalkan dirinya juga. Dan dilanjutkan dengan obrolan beberapa lama. Ternyata mereka memiliki hobi yang sama, meminati sastra. Dan juga satu hal lagi, ternyata mereka mahasiswa dari fakultas dan kampus yang sama.
Setelah pertemuan itu, mereka tetap berhubungan. Sampai sekarang Kevin masih heran dengan pertemuan itu. Walau berwajah tampan dan berbakat menulis serta bermusik, Kevin tidak mudah mengawali perkenalan. Dia suka berteman, tapi dia juga suka ketenangan. Agar mudah dapat inspirasi, pikirnya. Mungkin ini disebabkan sikap Arya yang ramah dan supel. Kevin pun tidak keberatan. Baginya Arya adalah sahabat. Selain karena mereka memiliki hobi yang sama, ini juga disebabkan karena sikap Arya yang ramah itu. Arya juga cerdas, sehingga dapat memahami cara berpikir Kevin yang menyukai ketenangan. Maka begitulah mereka adanya. Dua sahabat, tidak kurang, tidak lebih. Mereka merasa puas dengan sebutan itu, sahabat. Tempat sebagian diri kita tertambat.
Tiba-tiba, sebuah sengatan kecil di lengannya membuyarkan lamunan Kevin dan menyeretnya kembali ke realita. Ternyata nyamuk. Sial, gerutu Kevin. “Kevin,” akhirnya Arya memecah keheningan yang dibangunnya sendiri. “Ah…akhirnya. Ada apa, Arya?” tanya Kevin dengan tenang. “Kenapa?” Arya bertanya dengan nada yang dingin dan kosong. “Maksudnya?” Kevin masih tidak mengerti. “Kamis malam seminggu yang lalu, ruang kosong di kampus, pukul 11 malam.” hanya itu balasan Arya.
Kevin langsung tercekat. Kata-kata Arya bagai petir di siang bolong. Sesaat ia merasa jantungnya berhenti berdetak dan darah menguap dari tubuhnya. Jiwanya terguncang. Mati-matian ia mengendalikan tubuhnya yang gemetar. Jadi, Arya tahu. Setelah susah-payah menenangkan diri, dia meyusun kata-katanya.
“Bagaimana…kamu bisa tahu?” tanya Kevin.
“Karena saat itu aku ada di sana.” jawab Arya.
Jawaban itu memukul Kevin dengan telak untuk kedua kalinya. Dia tidak dapat berkata apa-apa lagi. Maka dia terdiam. Arya pun terdiam. Keduanya terdiam. Pikiran Arya pun melayang dituntun kesunyian. Dibimbing oleh ingatan, ke malam itu. Malam yang tak akan dilupakannya seumur hidupnya.
Kala itu Arya tinggal agak lama di kampus untuk mencari materi untuk tugasnya. Setelah selesai, dia pun bermaksud pulang. Saat sedang menyusuri koridor kampus yang lumayan gelap, dia mendengar suara-suara dari ruang di tikungan di depannya. Siapa yang bicara di kampus pada jam selarut ini, pikirnya. Arya lalu memperlambat langkahnya. Dia berhenti di tikungan sebelum pintu ruangan tempat suara itu berasal. Dia mendengarkan dengan seksama. Ada dua orang. Suara yang satunya tenang, dan yang lainnya kasar dan keras.
Arya mengenali salah satu suara itu. Kevin? pikirnya. Dia heran. Namun dia memilih tetap mendengarkan. Dia tercekat mengetahui isi pembicaraan itu. Makin lama pembicaraan makin panas. Suara yang keras itu makin lama makin kasar. Namun tiba-tiba hening beberapa lama, dan disusul bunyi yang keras. Akhirnya, pintu terbuka, dan seseorang melangkah ke luar ke arah berlawanan, berlalu tanpa menyadari kehadiran Arya. Arya tidak dapat berpikir jernih. Kakinya gemetar hebat. Tanpa pikir panjang lagi, ia melesat meninggalkan tempat itu, masuk ke mobilnya, dan segera pulang.
Esoknya, kampus pun gempar. Di ruang kosong itu ditemukan mayat Steve, mahasiswa di kampus itu juga. Bersama sepucuk pistol. Dan yang lebih menghebohkan, di sekitar mayat Steve berserakan berbagai bukti. Bukti tentang pengedaran narkoba. Ternyata Steve adalah pengedar di lingkungan kampus. Selain itu terdapat juga daftar nama anggota Steve, jalur pengedarannya, foto-foto transaksi, dan masih banyak lagi.
Keesokan harinya, berita itu muncul di halaman depan berbagai surat kabar. Jaringan pengedar di kampus dibekuk. Ternyata jaringan itu luas dan melibatkan beberapa aparat kepolisian. Itulah sebabnya komplotan ini bisa melebarkan sayapnya dalam kerahasiaan tanpa tercium sedikitpun. Kecuali bagi Kevin, pikir Arya.
Selama seminggu, Arya gelisah. Dia menjadi saksi dari sebuah pembunuhan. Dan pembunuh itu adalah sahabatnya. Namun korban adalah penjahat. Sampah masyarakat. Terjebak dalam dilema, Arya akhirnya mengambil tindakan. Dia harus mendapat kebenaran itu dari mulut Kevin sendiri.
“Kevin…ceritakan padaku apa yang terjadi malam itu, sekali lagi.” perintah Arya.
“Baiklah, Arya…” desah Kevin. “Malam itu aku memanggil Steve dengan membawa bukti, memaksanya menyerahkan diri ke polisi.”
“Apa kau sudah gila? Kau bisa dibunuhnya.”
“Tidak akan. Aku bilang padanya, jika aku mati, esoknya salinan bukti-bukti itu akan menghiasi media.”
“Dari mana kau dapatkan bukti-bukti itu?”
“Aku punya naluri yang tajam. Karena curiga pada Steve, kuselidiki dia berminggu-minggu.”
“Lalu? Apa yang terjadi?”
“Dia mengancamku dengan pistol untuk menyerahkan bukti. Dia tidak percaya akan ancamanku.”
“Apa? Steve…” Arya tak mampu melanjutkan.
“Aku terdesak. Nyawaku terancam. Sesaat Steve lengah, dan kuhantamkan pipa besi ke lehernya. Aku hanya bermaksud membuatnya pingsan. Ternyata dia mati.”
“Jadi…keheningan itu…”
“Saat Steve menodongku dengan pistolnya.”
“Dan suara keras itu…” Arya akhirnya mengerti.
“Kenapa polisi tidak menangkapmu?” Pertanyaan ini terus menghantui Arya.
Steve menjawab dengan suara bergetar. “Karena aku berhati-hati. Aku sudah menghapus sidik jariku yang ada di bukti-bukti itu sebelum bertemu Steve. Dan pertemuan itu rahasia. Ternyata Steve terbunuh. Aku panik. Sebelum keluar, kuhapus sidik jariku yang ada di pipa besi dan pegangan pintu.”
“Tanpa menyadari bahwa aku ada di balik tikungan…” balas Arya. “Jadi itu sebabnya…” dan Kevin pun tertunduk. Arya pun terdiam. Walau begitu, dia heran dengan tindakan Kevin. Menyelidiki Steve. Mengancamnya. Mungkin karena dia penulis dan banyak membaca, pikir Arya. Sampai di sini dia masih mengerti. Namun, menghapus bukti setelah membunuh. Dia merasa tak lagi mengenal sahabatnya. Dan masih ada satu pertanyaan, walau dia sudah tahu jawabannya.
“Kenapa kamu tidak meyerahkan diri?”
“Itu kecelakaan. Sepenuhnya pembelaan diri. Dan Steve sampah masyarakat. Dia pantas mati.”Arya tercekat mendengar kalimat terakhir itu.
“Itukah jawabanmu?”
“Itulah kebenaran, Arya.”
“Kebenaran? Apa maksudmu?”
“Kebenaran…adalah apa yang ingin didengar oleh masing-masing orang.” Arya terdiam.
“Lihat faktanya, Arya. Masyarakat tak peduli apakah pembunuh Steve tertangkap atau tidak. Mereka justru bahagia. Seorang perusak generasi muda mati, walau ini bukan keinginanku pada awalnya. Kampus kita pun jadi sedikit lebih baik. Inilah…kenyataannya.”
Jauh di bagian terdalam hati dan logikanya, dia mengakui Kevin benar. “Lalu, bagaimana denganku? Aku mengetahui kebenarannya.”
Kevin diam saja. Dia dan Arya sudah tahu jawabannya. Kevin tidak akan pernah mengusik Arya. Arya sahabatnya. Dan Arya pun mengerti. Dia tak bisa melaporkan Kevin. Kevin tak berniat membunuh. Dan jaringan pengedar itu sudah terungkap. Melaporkan Kevin hanya akan membahayakan nyawanya. Kevin sahabatnya.
Mereka sudah lama bersahabat. Saat itu mereka bisa mengetahui pikiran masing-masing tanpa bicara. Keheningan yang menggantung telah menjawab segalanya. Dan mereka pun tahu, karena kejadian ini, persahabatan mereka akan berubah. Entah berakhir atau berlanjut, yang pasti tak akan pernah sama lagi.
Malam mulai menyelimuti mereka. Dengan tenang, Arya berdiri dan beranjak, meninggalkan Kevin di sana. Di bangku itu. Bernaungkan malam berteman sunyi sepi dingin tak terperi. Pada malam itu bintang, pohon, air mancur, bangku, dan semua yang ada di taman itu menjadi saksi. Saksi akan kesunyian. Kesunyian yang menyesakkan seorang Kevin Danubrata.
Rajian S R,
Kelas XII SMAN Plus
Provinsi Riau
Rabu, 27 Oktober 2010
Kata Mutiara Seseorang
Kata mutiara hari ini
tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta
tak ada penyakit yang tak dapat dismebuhkan oleh kasih sayang
tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan
tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan
tak ada batu keraspun yang tak dapat dipeccahkan oleh kesabaran
semua itu harus berasal dari hati
bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula
kesuksesan bukanlah semata mata betapa kerasnya otot dan betapa tajam otak kita, namun juga betapa lembut hati dalam menjalani segala sesuatu..
kita tak kan menghentikan tangis seorang bayi hanya dengan merengkuhnya dalam lengan yang kuat atau membujuknya dengan berbagai gula gula dan kata kata manis. kita harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang jauh di dalam dada kita.
Source : http://betamedialink.blogspot.com/search/label/Mistery%20Phenomenon
tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta
tak ada penyakit yang tak dapat dismebuhkan oleh kasih sayang
tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan
tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan
tak ada batu keraspun yang tak dapat dipeccahkan oleh kesabaran
semua itu harus berasal dari hati
bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula
kesuksesan bukanlah semata mata betapa kerasnya otot dan betapa tajam otak kita, namun juga betapa lembut hati dalam menjalani segala sesuatu..
kita tak kan menghentikan tangis seorang bayi hanya dengan merengkuhnya dalam lengan yang kuat atau membujuknya dengan berbagai gula gula dan kata kata manis. kita harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang jauh di dalam dada kita.
Source : http://betamedialink.blogspot.com/search/label/Mistery%20Phenomenon
Minggu, 24 Oktober 2010
Air Mata Kehidupan
ayangkanlah sebuah kolam luas,
Kolam itu tenang,
saking tenangnya terlihat bak kaca.
Tiba-tiba hujan deras turun..
Bayangkan,
ada berjuta bulir air hujan yang jatuh di atas air kolam, membuat riak..
Jutaan rintik air yang terus-menerus berdatangan
membentuk riak, kecil-kecil memenuhi seluruh permukaan kolam…
Begitulah kehidupan ini,
bagai sebuah kolam raksasa.
Dan manusia bagai air hujan yang berdatangan terus-menerus, membuat riak..
Riak itu adalah gambaran kehidupannya.
Siapa yang peduli dengan sebuah bulir air hujan yang jatuh ke kolam, menit sekian, detik sekian? Ada jutaan bulir air hujan lain, bahkan dalam sekejap riak yang ditimbulkan tetes hujan barusan sudah hilang, terlupakan, tak tercatat dalam sejarah…
Siapa yang peduli dengan anak manusia yang lahir tahun sekian, bulan sekian, tanggal sekian, jam sekian, menit sekian, detik sekian? Ada miliaran manusia, dan bahkan dalam sekejap, nama, wajah, dan apalah darinya segera lenyap dari muka bumi! Ada seribu kelahiran dalam setiap detik, siapa yang peduli?
Itu jika engkau memandang kehidupan dari sisi yang amat negatif..
Kalau engkau memahaminya dari sisi positif,
maka kau akan mengerti ada yang peduli atas bermiliar-miliar bulir air yang membuat riak tersebut,
Peduli atas riak-riak yang kau timbulkan di atas kolam, sekecil atau sekejap apapun riak itu..
Dan saat kau menyadari ada yang peduli,
maka kau akan selalu memikirkan dengan baik semua keputusan yang akan kau ambil..
Sekecil apapun itu, setiap perbuatan kita memiliki sebab-akibat..
Siklus sebab-akibat itu sudah ditentukan..
Tak ada yang bisa mengubahnya, kecuali satu!
Yaitu Kebaikan..
Kebaikan bisa mengubah takdir..
Nanti engkau akan mengerti, betapa banyak kebaikan yang kau lakukan tanpa sengaja telah merubah siklus sebab-akibat milikmu..
Apalagi kebaikan-kebaikan yang memang dilakukan dengan sengaja..
Seseorang yang memahami siklus sebab-akibat itu,
Seseorang yang tahu bahwa kebaikan bisa mengubah siklusnya,
Maka dia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik..
Mungkin semua apa yang dilakukannya terlihat sia-sia,
Mungkin apa yang dilakukannya terlihat tidak ada harganya bagi orang lain,
Tapi dia tetap mengisi sebaik mungkin…
(Rembulan Tenggelam di Wajahmu – Tereliye)
Kolam itu tenang,
saking tenangnya terlihat bak kaca.
Tiba-tiba hujan deras turun..
Bayangkan,
ada berjuta bulir air hujan yang jatuh di atas air kolam, membuat riak..
Jutaan rintik air yang terus-menerus berdatangan
membentuk riak, kecil-kecil memenuhi seluruh permukaan kolam…
Begitulah kehidupan ini,
bagai sebuah kolam raksasa.
Dan manusia bagai air hujan yang berdatangan terus-menerus, membuat riak..
Riak itu adalah gambaran kehidupannya.
Siapa yang peduli dengan sebuah bulir air hujan yang jatuh ke kolam, menit sekian, detik sekian? Ada jutaan bulir air hujan lain, bahkan dalam sekejap riak yang ditimbulkan tetes hujan barusan sudah hilang, terlupakan, tak tercatat dalam sejarah…
Siapa yang peduli dengan anak manusia yang lahir tahun sekian, bulan sekian, tanggal sekian, jam sekian, menit sekian, detik sekian? Ada miliaran manusia, dan bahkan dalam sekejap, nama, wajah, dan apalah darinya segera lenyap dari muka bumi! Ada seribu kelahiran dalam setiap detik, siapa yang peduli?
Itu jika engkau memandang kehidupan dari sisi yang amat negatif..
Kalau engkau memahaminya dari sisi positif,
maka kau akan mengerti ada yang peduli atas bermiliar-miliar bulir air yang membuat riak tersebut,
Peduli atas riak-riak yang kau timbulkan di atas kolam, sekecil atau sekejap apapun riak itu..
Dan saat kau menyadari ada yang peduli,
maka kau akan selalu memikirkan dengan baik semua keputusan yang akan kau ambil..
Sekecil apapun itu, setiap perbuatan kita memiliki sebab-akibat..
Siklus sebab-akibat itu sudah ditentukan..
Tak ada yang bisa mengubahnya, kecuali satu!
Yaitu Kebaikan..
Kebaikan bisa mengubah takdir..
Nanti engkau akan mengerti, betapa banyak kebaikan yang kau lakukan tanpa sengaja telah merubah siklus sebab-akibat milikmu..
Apalagi kebaikan-kebaikan yang memang dilakukan dengan sengaja..
Seseorang yang memahami siklus sebab-akibat itu,
Seseorang yang tahu bahwa kebaikan bisa mengubah siklusnya,
Maka dia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik..
Mungkin semua apa yang dilakukannya terlihat sia-sia,
Mungkin apa yang dilakukannya terlihat tidak ada harganya bagi orang lain,
Tapi dia tetap mengisi sebaik mungkin…
(Rembulan Tenggelam di Wajahmu – Tereliye)
Langganan:
Postingan (Atom)